Menu

Mode Gelap
 

Artikel

KH Masthuro (7) : Pesantren Klasikal

badge-check


					KH Masthuro (7) : Pesantren Klasikal Perbesar

Pesantren Al-Mathuriyah yang didirikan KH Masthuro pada 1920 semula bernama Pesantren Tipar, sesuai dengan kampung tempat lokasi pesantren itu berada. Tepatnya di kampung Tipar desa Cimahi (sekarang Cibolangkaler) kecamatan Ciaaat Kabupaten Sukabumi. Penamaan ini lumrah terjadi pada bayak pesantren.

Sekarang dengan perkembangan, kemudian diubah menjadi Pesantren Sirojul Athfal. Artinya lampu penerang para santri.

Pada Sirojul Athfal, KH Mathuro melaksanakan pendidikan pesantrennya secara berkelas, klasikal. Artinya dimulai dari kelas 1, 2, hingga kelas 6. Lama pendidikan 6 tahun, kecuali bagi yang masih kurang diberi kesempatan sebelumnya untuk masuk pada kelas persiapan.

Tradisi ini tidak umum. Di banyak pesantren, tidak dibagi kelas, tapi satu kelas dengan banyak rombongan. Disini seorang kyai mengajar pagi untuk kelas pemula misalnya kemudian dilanjutkan dengan kelas menengah dan kemudian kelas lanjutan. Kelas pemula secara sadar tidak akan mengikuti pengajian kelas menengah dan lanjutan, kecuali hanya untuk tabarukan saja.

Di Sirojul Athfal, KH Masthuro mendesain beda. Beliau memasukkan yang baru masuk ke kelas 1 dengan seorang pembimbing. Tahun berikutnya, santri yang kelas 1 itu naik ke kelas 2, dengan pembimbing yang sama. Demikian seterusnya hingga lulus dari kelas 6.

Pola ini menguntungkan terutama untuk pendidikan karakter. Karakter santri akan terbentuk dengan jelas dan nyata. Di samping itu, perkembangan santri bisa dipantau.

Kesulitan cara ini adalah pada  mempersiapkan guru yang siap dengan berbagai disiplin ilmu. Kesulitan lain, kemungkinan santri dihinggapi rasa bosan dengan guru yang itu-itu saja. Akan tetapi dengan niat dan tekad para santri, kebosanan itu tidak akan terjadi.

Berikut beberapa nama yang biasanya membantu KH Masthuro dan menjadi wali kelas para santri.

  1. KH Moh Sanusi, mantu
  2. KH Sukandi, mantu
  3. KH Kholilullah, keponakan
  4. KH Syarkondi, murid dan alumni
  5. KH Daman Azhar, mantu

Sedangkan materi kitab, sama saja dengan kebanyakan pesantren.

(kbk)

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Idul Adha 2026: Momentum Pengorbanan dan Kepedulian Sesama Manusia

26 Mei 2026 - 17:00 WIB

Institut Al-Masthuriyah Sukabumi Gelar Penutupan Orientasi Calon Alumni Semester 8

12 Mei 2026 - 12:17 WIB

Orientasi Alumni Institut Al-Masthuriyah Sukabumi

9 Mei 2026 - 11:16 WIB

Suara untuk Madrasah Diniyah: Ada Apa dengan Kemenag?

11 Februari 2026 - 21:31 WIB

Dari Ilmu ke Amal: Seminar Kaifiyat Pemulasaraan Jenazah bagi Masyarakat Cimanggis, Kamis, Januari 2026.

11 Februari 2026 - 12:39 WIB

Trending di Artikel