Pesantren Al-Mathuriyah yang didirikan KH Masthuro pada 1920 semula bernama Pesantren Tipar, sesuai dengan kampung tempat lokasi pesantren itu berada. Tepatnya di kampung Tipar desa Cimahi (sekarang Cibolangkaler) kecamatan Ciaaat Kabupaten Sukabumi. Penamaan ini lumrah terjadi pada bayak pesantren.
Sekarang dengan perkembangan, kemudian diubah menjadi Pesantren Sirojul Athfal. Artinya lampu penerang para santri.

Pada Sirojul Athfal, KH Mathuro melaksanakan pendidikan pesantrennya secara berkelas, klasikal. Artinya dimulai dari kelas 1, 2, hingga kelas 6. Lama pendidikan 6 tahun, kecuali bagi yang masih kurang diberi kesempatan sebelumnya untuk masuk pada kelas persiapan.
Tradisi ini tidak umum. Di banyak pesantren, tidak dibagi kelas, tapi satu kelas dengan banyak rombongan. Disini seorang kyai mengajar pagi untuk kelas pemula misalnya kemudian dilanjutkan dengan kelas menengah dan kemudian kelas lanjutan. Kelas pemula secara sadar tidak akan mengikuti pengajian kelas menengah dan lanjutan, kecuali hanya untuk tabarukan saja.
Di Sirojul Athfal, KH Masthuro mendesain beda. Beliau memasukkan yang baru masuk ke kelas 1 dengan seorang pembimbing. Tahun berikutnya, santri yang kelas 1 itu naik ke kelas 2, dengan pembimbing yang sama. Demikian seterusnya hingga lulus dari kelas 6.
Pola ini menguntungkan terutama untuk pendidikan karakter. Karakter santri akan terbentuk dengan jelas dan nyata. Di samping itu, perkembangan santri bisa dipantau.
Kesulitan cara ini adalah pada mempersiapkan guru yang siap dengan berbagai disiplin ilmu. Kesulitan lain, kemungkinan santri dihinggapi rasa bosan dengan guru yang itu-itu saja. Akan tetapi dengan niat dan tekad para santri, kebosanan itu tidak akan terjadi.
Berikut beberapa nama yang biasanya membantu KH Masthuro dan menjadi wali kelas para santri.
- KH Moh Sanusi, mantu
- KH Sukandi, mantu
- KH Kholilullah, keponakan
- KH Syarkondi, murid dan alumni
- KH Daman Azhar, mantu
Sedangkan materi kitab, sama saja dengan kebanyakan pesantren.
(kbk)









