Sudut Harmoni, Sukabumi (7/1/26). KH Masthuro yang lahir pada 1901, adalah putera pasangan K Asror dengan Ibu Eswi.
K Asror pada awalnya hidup di Kuningan Jawa Barat, lalu karena tekanan penjajah, hijrah ke Cimande Bogor dan lalu hijrah kembali ke Sukabumi. Untuk menghindari kejaran Belanda, beliau sering berganti dari Absor, ke Asror, lalu ke Kamsol. Makbarahnya sekarang ada di desa Cimahi Kecamatan Cicantayan Kab Sukabumi.

K Asror adalah putera K Imamudin, seorang tokoh dan penghulu di Kuningan. Sebagai penghulu, tentu saja memiliki pengetahuan luas dan mendalam tentang agama dan tentang kemasyarakatan. Pergerakannya di lingkungan masyarakat tentu sangat berarti bagi masyarakat Kuningan.
K Imamudin adalah putera dari Eyang KH Hasan Maolani, tokoh Kuningan yang dibuang ke Menado, sehingga sering dipanggil dengan sebutan Eyang Menado. Beliau dimakamkan di Menado, tetapi kuburan rambutnya ada di Kuningan.
Peringatan haol sering dilaksanakan di makam di Kuningan. Pada 2026 ini peringatan haol Eyang KH Hasan Maolani ke-156. Eyang KH Hasan Maolani nasabnya sampai kepada Sunan Gunungjati Cirebon.
Eyang KH Hasan Maolani sekarang sedang digadang untuk diajukan sebagai pahlawan nasional untuk masyarakat dibawah arahan Bupati Kuningan.
K Imamudin sebagai tokoh agama dan penghulu, menginspirasi K Asror untuk mengikuti jejak ayahnya. Dari jalur inilah, banyak yang kemudian keturunannya menjadi tokoh agama dan pejabat dalam kehidupan agama. (kbk)









