Menu

Mode Gelap
 

Opini

Di Balik Kabut Gede Pangrango: Narasi Perlawanan Rakyat terhadap Geothermal dan Rebutan Makna atas Alam

badge-check


					Di Balik Kabut Gede Pangrango: Narasi Perlawanan Rakyat terhadap Geothermal dan Rebutan Makna atas Alam Perbesar

Penulis : Moch Fahmi Amiruddin

Di lereng Gunung Gede Pangrango, kabut selalu turun lebih cepat dari sorot matahari. Dari kejauhan, gunung itu tampak seperti benteng alam yang membungkus sejarah panjang tanah Sunda: tempat berteduhnya hutan hujan tropis, paru-paru raksasa yang memberi kehidupan pada sungai-sungai besar, dan rumah bagi makhluk hidup yang tak terhitung jumlahnya. Namun, di tengah sunyi itu, sebuah gelombang perlawanan lahir, bukan dari instruksi elit, bukan dari meja rapat yang dingin, melainkan dari kesadaran rakyat bahwa alam bukan tanah jajahan, dan hidup mereka bukan komoditas yang bisa dinegosiasikan.

Perjuangan menolak proyek geothermal di kawasan Gede Pangrango bukan perkara menolak teknologi, bukan pula alergi pada energi terbarukan. Rakyat bukan anti-sains, bukan anti-progres. Tetapi mereka menolak logika ekstraktivisme yang dibungkus label “energi bersih” logika yang memandang bumi sebagai objek, air sebagai angka di dashboard industri, dan rakyat sebagai pelengkap statistik pembangunan.

Ketika Janji Pembangunan Menjadi Luka di Hatimu

Di banyak desa sekitar Gede Pangrango, warga bercerita bahwa sejak 2022, kawasan itu mulai mengalami aktivitas yang mencurigakan: survei lahan, pematokan, lalu wacana pembukaan akses menuju titik pengeboran. Meski diklaim “ramah lingkungan,” rakyat tahu dari pengalaman daerah lain bahwa proyek geothermal sering membawa risiko: perubahan struktur tanah, potensi longsor, penurunan kualitas air, gangguan ekosistem, hingga ancaman hilangnya lahan pertanian yang menjadi sumber hidup masyarakat.

Bagi masyarakat, gunung bukan hanya bentuk fisik; ia adalah roh ruang hidup. Sungai Cisadane, Ciwalen, Cibodas, dan puluhan mata air lain yang berasal dari jantung Gede Pangrango adalah denyut nadi jutaan manusia di wilayah Bogor, Sukabumi, Cianjur, dan Banten. Merusak hulu berarti membunuh hilir. Rakyat memahami itu bukan dari buku, tetapi dari pengalaman hidup.

Dan saat elit bicara tentang “manfaat besar proyek nasional,” rakyat bertanya:

“Untuk siapa manfaat itu mengalir? Untuk kami, atau untuk perusahaan yang tak pernah menatap wajah kami?”

Perlahan warga mulai sadar: pembangunan yang tak mendengar suara rakyat hanyalah bentuk lain dari kolonialisme. Hanya saja, kali ini kolonialismenya memakai jas, slip-on, dan papan presentasi penuh grafik biru-hijau bertuliskan renewable energy.

Tauhid Ekologis: Ketika Iman Menjadi Perlawanan

Perlawanan ini bukan sekadar gerakan sosial. Ia juga gerakan teologis. Dalam perspektif Islam tradisi yang memadukan prinsip pembebasan sosial dengan ajaran Islam, alam bukan objek ekonomi. Alam adalah amanah.

Allah berfirman:
“Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi setelah (Allah) memperbaikinya.”

Ayat ini bukan hiasan khutbah. Ia adalah bentuk etika radikal yang mewajibkan manusia menjaga keseimbangan ekologis. Dalam kacamata Islam kiri, merusak hutan demi profit adalah bentuk syirik sosial-ekologis: yaitu ketika manusia menempatkan keuntungan sebagai tuhan baru, menggantikan keadilan dan kelestarian ciptaan.

Karena itu, rakyat di kaki Gede Pangrango bergerak bukan hanya untuk bumi, tetapi untuk iman. Mereka berdiri dengan tauhid yang teguh:

Bahwa bumi tidak boleh ditindas oleh struktur kuasa manapun—baik kolonial, kapital, maupun birokrasi.

Ini bukan sekadar penolakan, ini ihtiada’, ikhtiar membela kehidupan.

Militan Karena Dicurangi, Teguh Karena Dijanjikan

Siapa yang pernah melihat aksi warga pada Desember 2025 tahu betapa besar suara hati itu. Ratusan orang bergerak, tidak dengan amarah buta, tapi dengan tekad yang tidak bisa ditawar: menuntut pemimpin daerah menepati janji untuk menolak proyek geothermal di kawasan konservasi.

Mereka masuk ke pendopo, memanggil pemimpinnya, yang dulu, saat kampanye, berkata akan berdiri di pihak rakyat. Namun hari itu, janji tinggal retorika. Warga menunggu, tetapi bayangan sang pemimpin tidak muncul bahkan untuk mendengar mereka.

Di titik itu, rakyat sadar bahwa:

Jika penguasa tidak membela rakyat, maka rakyat harus membela diri mereka sendiri.

Absennya pemimpin terasa seperti pesan yang jelas: “Kalian sendirian.”
Tapi justru di momen itu, rasa kesendirian berubah menjadi solidaritas.
Rakyat yang sebelumnya terpisah oleh desa, kecamatan, atau profesi, kini menyatu dalam satu kata: melawan.

Menolak Bukan Berarti Anti-Kemajuan, Menolak Karena Cinta

Banyak orang, terutama para teknokrat, mencemooh penolakan rakyat sebagai “emosi,” “minim pemahaman,” atau “anti-progres.” Padahal, masyarakat justru memahami bahwa kemajuan bukan sekadar angka kapasitas megawatt atau grafik pertumbuhan ekonomi.

Kemajuan yang merusak hutan adalah kemunduran.
Kemajuan yang menghilangkan mata air adalah bencana.
Kemajuan yang menyingkirkan rakyat adalah tirani.

Rakyat bukan menolak geothermal.
Rakyat menolak cara geothermal dijalankan:

  • tanpa transparansi,
  • tanpa kajian ekologis yang komprehensif,
  • tanpa keterlibatan masyarakat,
  • dan di lokasi yang secara ekologis tidak boleh disentuh.

Gede Pangrango bukan gunung biasa. Ia adalah penyangga kehidupan pulau Jawa bagian Barat. Dalam logika ekologis, merusaknya sama dengan menusuk paru-paru sendiri.

Di Balik Gunung Ada Masa Depan

Perlawanan rakyat hari ini adalah permulaan. Ia menandakan bahwa generasi baru Indonesia mulai memahami bahwa:

perlawanan ekologis adalah perlawanan kelas.

Proyek ekstraktif adalah wajah baru kapitalisme yang menyusup ke ruang hidup rakyat dan menjarah alam dengan dalih energi bersih. Dan tugas generasi hari ini adalah memastikan bahwa pembangunan tidak jadi penjara bagi masa depan.

Gede Pangrango mengajarkan satu hal:

bahwa gunung hanya akan terus berdiri selama manusia tidak tunduk pada godaan rakus dan kepentingan para pemilik modal yang ingin mengubah alam menjadi pundi-pundi uang.

Penutup: Manifesto Gunung dan Rakyat

Inilah suara kolektif yang mengalir dari kaki gunung menuju hati nurani bangsa:

“Jika negara hadir untuk korporasi, maka rakyat harus hadir untuk bumi.
Jika kekuasaan berpaling, maka imanlah yang memandu langkah penolakan.
Karena bumi bukan warisan, tetapi titipan yang harus kita jaga dengan darah, tekad, dan doa.”

Gunung Gede Pangrango bukan sekadar lanskap; ia adalah kitab alam. Dan rakyat hari ini memilih menjadi penjaganya.

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Suara untuk Madrasah Diniyah: Ada Apa dengan Kemenag?

11 Februari 2026 - 21:31 WIB

Dari Ilmu ke Amal: Seminar Kaifiyat Pemulasaraan Jenazah bagi Masyarakat Cimanggis, Kamis, Januari 2026.

11 Februari 2026 - 12:39 WIB

Festival Anak Soleh : Menjadi Ajang Pembelajaran Bagi Siswa/i MDTU Se-Desa Cimanggis, Selasa, 27 Januari 2026.

11 Februari 2026 - 12:22 WIB

Nestapa Sang Ratu Buah : Menguak Misteri Gagal Panen di Tanah Para Eksportir, Senin 26 Januari 2026.

11 Februari 2026 - 04:37 WIB

Menebar Semangat Belajar : Mahasiswa KKN Dampingi Siswa Di MDTU Nurul Huda Desa Cimanggis , Senin, 12 Januari 2026

11 Februari 2026 - 04:24 WIB

Trending di Artikel