Menu

Mode Gelap
 

Artikel

KH Masthuro (6) : Aurad dan Zikir

badge-check


					KH Masthuro (6) : Aurad dan Zikir Perbesar

KH Masthuro yang lahir 1901 dan mendirikan pesantren Al-Masthuriyah pada usia 19 tahun, menorehkan core pendidikan nya pada ibadah. Semua aktivitas keilmuan diarahkan untuk memperbaiki ibadah. Ibadah di sini tidak hanya ibadah mahdoh saja, tetapi mencakup ibadah sosial dan pengadian kepada masyarakat. Akan tetapi, ibadah sosial ini juga harus berlandaskan pada nilai-nilai ibadah ilahiyah.

Aktivitas pendidikan dimulai dengan shalat Subuh berjamaah. Lalu dilanjut dengan aurad dan zikir.

Aurad yang dibacakan dengan suara kencang dan bersama, adalah aurad ba’da shalat yang ma’tsurah, jelas sandarannya berdasarkan Quran dan hadits. Tidak ada tambahan semisal hasil perenungan dirinya.

Aurad sejenis dibaca usai shalat maghrib dan shalat Ashar. Sedangkan usai Isya dan Zuhur tidak ditemukan.

Setelah aurad dilanjut dengan zikir la ilaha illallah muhammadur Rasulullah sebanyak seratus kali. Bacaannya jahar (keras) dibimbing oleh Imam.

Kerasnya bacaan dimungkinkan menjadi santri lebih semangat dan lebih menyerap ke dalam hati. Hati, bagaimanapun menjadi kunci zikir. Akan tetapi hati harus dibantu oleh yang lainnya seperti lisan, suara, bakan dengan gerakan anggota tubuh.

Zikir selanjutnya dilanjut dengan la ilaha illallah saja, sebanyak seribu kali. Tidak ditemukan alasan, kenapa harus seribu. Penelusuran pendidikan Masthuro tidak menemukan jejak ini. Dugaan sampai saat ini, jumlah seribu itu hasil perenungan spiritual Masthuro. Sandaran keilmuannya hanya pada “semakin banyak semakin baik”.

Tradisi aurad dan zikir sebagai core Masthuro, sampai sekarang masih dilestarikan. Alasan selain melanjutkan tradisi KH Masthuro, juga diyakini bahwa dengan aurad dan zikir akan membentuk pribadi yang lembut dan siap menghadapi segala tantangan hidup karena selalu meyakini kehadiran-Nya

Para santri yang mengawali aktivitas pendidikannya dengan aurad dan zikir akan siap menerima pengajaran dan pendidikan pada hari itu. Kesiapan hati dan mental menjadi kata kunci keberhasilan pendidikan. Ilmu itu suci dan hanya bisa masuk kepada yang suci.

(kbk)

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Idul Adha 2026: Momentum Pengorbanan dan Kepedulian Sesama Manusia

26 Mei 2026 - 17:00 WIB

Institut Al-Masthuriyah Sukabumi Gelar Penutupan Orientasi Calon Alumni Semester 8

12 Mei 2026 - 12:17 WIB

Orientasi Alumni Institut Al-Masthuriyah Sukabumi

9 Mei 2026 - 11:16 WIB

Suara untuk Madrasah Diniyah: Ada Apa dengan Kemenag?

11 Februari 2026 - 21:31 WIB

Dari Ilmu ke Amal: Seminar Kaifiyat Pemulasaraan Jenazah bagi Masyarakat Cimanggis, Kamis, Januari 2026.

11 Februari 2026 - 12:39 WIB

Trending di Artikel