KH Masthuro mendirikan Pesantren Al-Masthuriyah pada usia 19 tahun, tepatnya pada 1920 setelah mengaji dan menimba ilmu di berbagai pesantren dan ajengan di Sukabumi.
Dalam pengabdian kepesantrenannya, KH Masthuro menorehkan core pendidikannya pada ibadah. Ibadah menjadi kata kunci dalam pelaksanaan pendidikannya. Sehingga KH Dadun Abdul Kohar (alm) ulama Cibadak Sukabumi menjulukinya sebagai “Tukang Ibadah atau Ahli Ibadah”.

Dalam pandangan KH Masthuro, seluruh ilmu dan informasi pengajaran disampaikan hanyalah sebagai alat untuk kesuksesan dan kesahan dalam ibadah. Kata kayfiyatush sholat yang ditulisnya, pada kata-kata pembukanya menyebutkan, “Barangsiapa yang sholat tidak tahu ilmu dan cara-cara shalat dan wudlu, sholatnya tidak sah, walaupun benar secara kebetulan”.
Ibadah yang menjadi pokok perhatiannya adalah shalat dan shalat berjamaah. Menurut KH Masthuro, dengan shalat manusia bisa menyelesaikan seluruh persoalan hidup dan kehidupannya. “Kalau ingin masalah selesai, perbaiki shalat kamu”. Begitu katanya.
Shalat juga harus diagungkan dan diprioritaskan. Beliau sering menekankan agar shalat dimisalkan sebagai tamu agung dan terhormat yang kalau mau datang berkunjung sudah dipersiapkan penyambutan nya jauh-jauh hari. “Shalat harus disambut. Sebelum datang waktu, harus sudah siap, berwudlu dan berpakaian yang layak”.
Orang yang sholatnya baik, akan berpengaruh pada perilakunya yang baik, juga akan mengakibatkan semangat dan produktivitas meningkat. Dengan demikian akan ada dinamika kehidupan yang berujung pada kesejahteraan manusia.
Orang yang baik sholatnya meyakini, ada Tuhan yang selalu menyertainya. Akibatnya ia tidak akan takut dan tidak akan khawatir akan kehidupannya. Mereka yang khawatir akan merasakan kecemasan sehingga tidak mau berusaha sebab diyakininya akan sia-sia.
Untuk mendukung itu, KH Masthuro secara khusus menyusun kitab tukilan yang diberi judul Kayfiyatush Sholat (tata cara shalat). Kitab ini lebih mengarah pada bimbingan tata cara bukan kajian keilmuan.
(kbk)









