Sudut Harmoni, Sukabumi (6/1/26). Kami akan menyajikan serial KH Masthuro secara berkelanjutan. Insyaallah, akan terus berlanjut sampai tuntas. Ini seri pertama.
KH Masthuro lahir pada 1901 dan mendirikan pesantren yang sekarang bernama Pesantren Al-Masthuriyah pada 1920. Artinya pada usia 19 tahun sudah menorehkan langkah strategis dalam mengabdi dan mengabdi masyarakat.

Pertama kali mendirikan pesantren, Masthuro dipanggil dengan sebutan “Mualim Ece”. Ece itu nama kecilnya. Sebutan mualim (pengajar) biasa disematkan pada orang yang baru saja mengajar dan mengabdi di pesantren.
Seiring dengan waktu, sebutan berubah menjadi “Ajengan Masthuro”. Perubahan ini pemberian masyarakat yang disebabkan oleh kemajuan Masthuro dalam kesolehan, kezuhudan, dan keikhlasan dalam mengabdi.
Pada puncaknya, Masthuro dipanggil dengan sebutan “Mama Ajengan Masthuro” atau “Mama Masthuro” atau “Mama Ajengan”. Sebutan ini disesuaikan dengan sikap spiritual Masthuro yang kian teruji dan terasa manfaatnya bagi masyarakat.
Leveling sebutan itu umum terjadi di Jawa Barat, khususnya di Sukabumi. Kalau di Jawa Tengah atau Jawa Timur, sebutannya Kyai. (kbk)









